Rabu, 15 Desember 2010

Semangat Penjaja Roti


Pagi itu sehabis membeli tas untuk mengganti tas saya yang rusak kemarin, saya singgah di suatu warung kopi di pinggir jalan Medan-Banda Aceh. Kota Geudong masih sepi, masih sekitar jam 7.30 WIB. Saya memesan sepiring nasi dan segelas milo hangat. Setelah itu saya menuju sebuah meja yang cuma diisi oleh seorang pria umuran 30-an. Begitu dua pesanan saya disajikan ke atas meja saya menyapa pria tersebut dan menawarkannya makan bersama. Tapi dia menolak,"Makasih mas" sembari mengangkat kedua tangannya. 

Sekilas dari wajahnya dia nampak bukan orang Aceh, tapi orang Jawa (bagi saya sama saja). Sambil menikmati nasi dan milo hangat saya coba mengajak dia ngobrol. Benar saja dugaan saya, dia seorang pria asal Sukabumi yang mengadu peruntungan di Bumi Malikussaleh. Katanya dia baru sekitar 4 bulan berada di Aceh dengan bekerja sebagai penjaja roti. Dia juga menunjukkan dagangannya kepada saya yang diparkirnya di depan kios samping warung kopi tempat kami menikmati sarapan. Kebetulan juga kios itu belum buka. 

Saya tertarik untuk semakin tahu tentang perjuangan pria itu hingga membuatnya harus mengais rezeki di Bumi Serambi Mekkah. Berdasarkan pengakuannya dia dulunya pernah berprofesi sebagai nelayan dan tukang ojek. Tapi penghasilannya kadang kurang bisa menutupi kebutuhan keluarga. Dia sudah dikaruniai 3 orang buah hati. Anak sulungnya bahkan sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Mungkin kita bisa bayangkan berapa kebutuhan rutinnya setiap hari untuk membiayai pendidikan dan bertahan hidup.

Dia ke Aceh setelah dikenalkan kawannya dengan seorang pengusaha roti di Lhokseumawe. Kebetulan juga pengusaha  itu asal Sukabumi yang dulunya haya bekerja sebagai buruh bangunan. Katanya dia setiap hari memesan 400 roti untuk dipikulnya dalam 2 tong dan dijajakan ke anak sekolah dan ke kampung-kampung. Jarang sekali rotinya tersisa. Hampir setiap hari dia mampu menjual semua roti yang dipesannya. Kalaupun tersisa hanya 10 potong dan itu akan dimakannya sendiri atau dibagikan ke tetangganya. 

Satu hal yang membuat saya salut adalah kegigihannya. Coba pembaca bayangkan, pagi-pagi dia bangun dan mengambil pesanannya di kawasan Cunda, Lhokseumawe. Kemudian dia menuju ke persimpangan jalan dan menumpangi angkutan kota (labi-labi orang aceh menyebutnya) menuju kota Geudong yang berjarak lebih kurang 13 kilometer. Turun di Geudong mencari sarapan meskipun hanya segelas kopi dan sepotong kue. Setelah itu dia memikul dua tong yang berisi 400 potong roti dengan berjalan kaki untuk dijajakan. Sorenya mungkin dengan bermandikan keringat dia kembali pulang dengan rute yang sama.

Bukankah itu pekerjaan yang luar biasa? Dia sama sekali tidak memakan hak dan jatah orang lain. Dia bertekad untuk bisa mengirimkan uang setiap bulannya kepada isteri dan anak-anaknya. Jika bisa bertahan di Aceh dia juga bertekad untuk bisa mengunjungi keluarganya minimal setahun sekali. Sungguh hal yang luar biasa bagi saya. Semoga dia bisa menjadi contoh bagi kita semua. Mencari rezeki dengan halal tanpa membuat orang lain menderita. Insya Allah!

Setelah berbincang beberapa lama dia minta pamit untuk mulai berjalan melaksanakan tugasnya. "Biar saya aja yang bayar mas", saya coba menawarkan diri. Tapi dia menolak dan membayar sendiri pesanannya.  Eh,,, saya lupa menanyakan namanya. Selamat berjuang mas, semoga sukses menyertai mas dan keluarga mas. Amin!


1 komentar: